Dirayu Madu Energi Biru
Pria asal Nganjuk mengaku bisa memproduksi minyak mentah dari air. Dari biang minyak itu bisa dihasilkan bahan bakar sekelas minyak tanah hingga avtur. Presiden yakin ini ”sumbangan Indonesia bagi dunia”. Namun teknologi ini diragukan banyak orang.
TEMUAN mahapenting itu akan dipresentasikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kediamannya di Puri Cikeas, Bogor. Kalender menunjukkan Ahad, 18 Mei 2008. Tapi Joko Suprapto, orang yang ditunggu-tunggu, tak juga datang. Ia bahkan hampir dua pekan tak memberikan kabar.
Presiden, menurut seorang sumber, hari itu menghubungi Heru Lelono, anggota staf khusus bidang otonomi daerah yang bekerja bersama Joko. Yudhoyono, yang oleh para pengawalnya diberi kata sandi ”Krisna”, bertanya apakah pria 48 tahun itu sudah datang dari asalnya, Nganjuk, Jawa Timur. ”Heru menjawab belum,” kata sumber itu.
Sang Krisna tahu Joko bukan orang sembarangan. Pria itu dipercaya bisa memproduksi minyak mentah—kelompoknya memberi nama oil base—dari air. Dengan proses selanjutnya, biang minyak itu bisa diolah menjadi bahan bakar sekelas minyak tanah, bensin, bahkan avtur, bahan bakar pesawat terbang. Temuan dahsyat ini—jika benar—bisa meruntuhkan bisnis perusahaan minyak multinasional. Jangan-jangan ia diculik. Perintah pun dikeluarkan: cari Joko sampai ketemu.
Perintah itu diteruskan ke Kepolisian Negara Republik Indonesia. Satu tim dari Detasemen Khusus 88 Antiteror diterjunkan. Dipimpin seorang perwira berpangkat komisaris besar, tim ini langsung bergerak. Tak sampai sepekan, pada 23 Mei, ”sang penemu” ditemukan: ia tergolek di Rumah Sakit Soedono, Madiun, Jawa Timur. ”Ia sakit jantung,” kata Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira, juru bicara Kepolisian Republik Indonesia.
Pertautan antara Joko dan Istana dimulai pada awal 2007. Mulanya ia berkenalan dengan Iswahyudi. Konsultan perminyakan itu aktif di Gerakan Indonesia Bersatu, lembaga yang dibentuk para pendukung Yudhoyono pada 2006. Iswahyudi kemudian mengenalkan Joko kepada Heru Lelono, sekretaris umum gerakan itu.
Kepada Heru, menurut sumber yang terlibat dalam kelompok itu, Joko mengenalkan ”teknologi listrik murah”—sama dengan yang dipresentasikan Joko ke Universitas Gadjah Mada tapi ditolak setahun sebelumnya. Di universitas itu, Joko membawa proyek pembangkit listrik dan panel surya.
Heru Lelono tertarik. Ia semakin kesengsem ketika Joko mengatakan bisa membuat ”minyak mentah” dengan memisahkan hidrogen dari air. ”Ini sesuai dengan keinginan Presiden di berbagai kesempatan tentang perlunya kita mengembangkan FEW: food, energy, and water,” kata Heru, seperti ditirukan sumber Tempo.
Eureka! Inilah solusi bagi bangsa, yang dilanda krisis akibat melangitnya harga minyak. Heru dan Iswahyudi lalu mengenalkan Joko kepada Yudhoyono. Soal ini, juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng mengatakan, Presiden selalu menyambut baik teknologi yang dibawa kepadanya. ”Setelah bertemu dengan kawan-kawan yang menyumbangkan blue energy, Pak Heru mungkin berpikir ini bagus. Lalu dia presentasikan ke Presiden,” kata Andi.
Kepada Presiden, menurut Andi, Joko mengatakan temuannya merupakan terobosan baru yang sedang dalam tahap riset. Jika berhasil, ini bisa memberikan dampak luar biasa dalam teknologi energi nonfosil. Presiden menyambut baik presentasi itu, kata Andi.
Presiden pun memberikan lampu hijau untuk pengembangannya. ”Tiga sekawan” itu lalu membentuk PT Sarana Harapan Indo Group, yang menaungi Sarana Harapan Indopangan, Sarana Harapan Indopower, dan Sarana Harapan Indohidro. Heru menjadi komisaris, dan Iswahyudi sebagai direktur. Pengembangan minyak dilakukan sayap Indohidro. Adapun Indopangan kini giat mengkampanyekan padi varietas baru: Supertoy HL 1-3. HL, singkatan dari Heru Lelono, diklaim bisa menghasilkan padi belasan ton per hektare.
Suko Sudarso, Ketua Umum Gerakan Indonesia Bersatu, mengatakan Iswahyudi sempat mengajaknya bergabung dalam proyek ini. Namun aktivis yang sempat menjadi lingkaran dekat Yudhoyono itu menolak. ”Sebagai orang fisika, saya meragukan teknologinya,” ujarnya kepada Tempo.
Heru dan Iswahyudi jalan terus. Mereka membeli 11 hektare lahan di Desa Cikeas Udik, Bogor, hanya beberapa kilometer dari kompleks kediaman Yudhoyono. Di lahan ini kemudian dibangun pusat penelitian yang diberi nama Center for Food, Energy, and Water Studies, disingkat CFEWS. Peletakan batu pertamanya dilakukan Heru pada 20 November 2007. Edhie Baskoro, putra kedua Yudhoyono, hadir ketika itu.
Area pusat penelitian itu kini telah dilengkapi sejumlah fasilitas penunjang seperti dua tanki berdiameter 10 meter. Tangki setinggi enam meteran itu mengapit dua bangunan satu lantai beratap biru. Tampak umbul-umbul bertulisan CFEWS dipasang di gerbang masuk. Heru Lelono, seperti dikutip Koran Tempo, telah menghabiskan Rp 10 miliar untuk proyek ini. ”Semua dari swasta, tak ada dana dari SBY sama sekali,” katanya.
Lima hari setelah peletakan batu pertama itu, Heru dan kawan-kawan melakukan konvoi yang diklaim untuk menguji bahan bakar buatan Joko. Ada dua pikap Ford Ranger, satu sedan Mazda 6, satu bus, dan satu truk pengangkut jeriken. Menurut Heru, rombongan ini mengangkut 2.500 liter bahan bakar sekelas solar dan 600 liter kelas gasoline. Sebagian di antaranya dipamerkan dalam area Konferensi Internasional Perubahan Iklim di Bali.
Presiden melepas rombongan ini di depan rumah pribadinya. Hadir Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi. Presiden berjongkok di dekat knalpot mobil bersama Sudi Silalahi, untuk menunjukkan bahwa bahan bakar itu beremisi rendah. ”Saya mengikuti terus perkembangan penelitian ini,” katanya.
Setelah dilepas Presiden, rombongan itu berkeliling Jakarta. Baru pada 28 November mereka meninggalkan Ibu Kota, menuju Solo, Nganjuk, Banyuwangi, dan tiba di Denpasar, dua hari kemudian. Heru dan rombongan mampir ke rumah Joko di Nganjuk. ”Kita ingin membuktikan kepada dunia bahwa kita bukan bangsa kere, yang terombang-ambing harga minyak dunia,” kata Heru ketika itu. ”Bangsa Indonesia bisa menemukan sendiri bahan bakar.”
Presiden kembali menyambut rombongan ini di Denpasar. Di area Konferensi Perubahan Iklim, bahan bakar yang diberi nama ”Minyak Indonesia Bersatu” itu dipamerkan. Lagu-lagu ciptaan Yudhoyono, yang albumnya baru saja diluncurkan, diputar di lokasi pameran. Mereka yang hadir mengenakan seragam putih bergaris biru, dengan tulisan Blue Energy. Presiden dengan bangga mengatakan, ”Inilah kemenangan bangsa Indonesia.” Tepuk tangan menggema.
DI Restoran Wyllows, kawasan Moiliili, Honolulu, 31 Maret lalu, Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman makan malam dengan mahasiswa Indonesia. Teguh Santosa, mahasiswa Universitas Hawaii Manoa, yang mengikuti isu blue energy di Tanah Air, menanyakan perkembangan temuan itu.
Alih-alih menjawab pertanyaan Teguh, Kusmayanto menceritakan kisah konyol: ”Markonah, ingat cerita Markonah?” Para mahasiswa menggeleng. Begitu juga Agusti Anwar, Konsul Bidang Pendidikan Konsul Jenderal RI di Los Angeles.
Kusmayanto lalu menceritakan tipuan seorang perempuan pada 1970-an yang mengatakan bayi di kandungannya bisa bicara. Para petinggi tertipu. Si perempuan ternyata meletakkan tape mini—barang langka ketika itu—di balik bajunya. Dalam versi asli, si perempuan bernama Cut Sahara Fonna, bukan Markonah. Kusmayanto juga mengingatkan penggalian situs Batutulis, Bogor, oleh Menteri Agama Said Agil Al-Munawar pada pemerintahan Megawati Soekarnoputri.
Menurut Teguh Santosa, Kusmayanto terkesan tak percaya dengan temuan Joko Suprapto. Apalagi ia sama sekali tak dilibatkan dalam proyek itu. ”Ini sepenuhnya pekerjaan Heru Lelono,” kata Kusmayanto, seperti ditirukan Teguh kepada Tempo.
Menurut sumber Tempo, Kusmayanto juga sempat mengungkapkan keraguannya itu kepada Presiden. Namun ia malah diminta diam tak mengomentari proyek Heru dan kawan-kawan. Dimintai konfirmasi soal ini, Kusmayanto menolak menjawab.
Teknologi pembuatan oil base Joko memang masih misterius. Kepada wartawan, November lalu, ia mengatakan meneliti bahan ini sejak 2001. Intinya, ia menjelaskan, pemecahan molekul air menjadi unsur hidrogen dan oksigen. Dengan suatu katalis, hidrogen lalu diikat dengan rangkaian karbon tertentu. ”Tinggal mengatur jumlah rangkaian karbonnya, mau untuk mesin bensin, solar, atau avtur,” tuturnya ketika itu.
Dalam situs Gerakan Indonesia Bersatu, Heru Lelono menyebut nama blue energy diberikan Presiden. Penemuannya didasarkan pada ”teknologi mata hati”, yaitu ”penyelarasan kemampuan olah pikir manusia yang berbatas dan kuasa Allah yang tak ada batasnya”. Bahan bakar dihasilkan dari ”substitusi molekul hidrogen ke dalam rangkai karbon tak jenuh.” Joko Suprianto mengatakan ide penelitian ini dari Al-Quran.
Karena basisnya tak jelas, para pakar perminyakan skeptis. Tumiran, Ketua Jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada, menilai air tak memiliki unsur kimia yang bisa diubah menjadi minyak. Ia bahkan menuduh kelompok Joko menipu.
Pakar bisa bilang apa saja. Namun Presiden yakin betul dengan keampuhan teknologi itu. Kepada rombongannya dalam perjalanan menuju Iran, Maret lalu, ia mengatakan temuan itu akan diumumkan pada bulan April. Syaratnya, mesin yang dibangun di Cikeas mampu memproduksi 5.000 liter per menit. Harganya direncanakan Rp 3.000 per liter. ”Ini sumbangan bangsa Indonesia kepada dunia,” ujarnya, seperti ditirukan seorang anggota rombongan.
Menurut Heru, akhir April lalu, Presiden kembali menerima Joko. Dalam pertemuan itu, sang peneliti berjanji menunjukkan hasil karyanya kepada Presiden pada 18 Mei. Joko berangkat dari Surabaya dengan memboyong semua peralatannya pada 6 Mei. Sejak itu ia menghilang. ”Ketika dijemput di Bandar Udara Soekarno-Hatta, ia tak pernah muncul,” kata Heru, seperti dikutip Koran Tempo.
Setelah ”ditemukan” pada 23 Mei, Joko tak bebas lagi. Siang-malam tentara dan polisi menjaga rumahnya. Ia tak gampang ditemui wartawan, yang ingin meminta kejelasan dasar ilmiah temuannya. Kepada Metro TV, yang ia undang khusus ke rumahnya, Joko mengatakan bahwa ia menghilang untuk menenangkan diri. Ia mengaku tak nyaman lagi dengan mereka yang mendukung proyek ini.
Joko merasa kerap ditekan para pendukung proyek. Di antaranya, ia dipaksa menandatangani kontrak yang mengharuskan dirinya menyerahkan semua rahasia penemuannya. Ia juga keberatan dengan istilah blue energy, yang kini populer. Baik Heru Lelono maupun Iswahyudi menolak dimintai konfirmasi atas pengakuan Joko. ”Kami tak akan memperpanjang perdebatan lagi,” ujar Heru.
Para penggagas proyek itu kini yakin, minyak murah akan bisa diluncurkan pada 17 Agustus nanti. Tokek…, bisa. Tokek…, tidak.
June 2nd, 2008 - Posted in Teknologi Populer | | 12 Comments
Rektor UMY Tak ada kaitan dengan Joko Suprapto :BEDA BANYU GENI DENGAN BLUE ENERGY
YOGYA (KR) - Setelah polemik panjang terkait dengan air untuk energi dan Joko Suprapto, akhirnya UMY yang meneliti soal banyugeni memberikan penjelasan. Secara tegas Rektor UMY Dr Khoiruddin Bashori menyatakan, bahwa antara banyugeni yang dikembangkan UMY dan blue energy yang dikembangkan Joko Suprapto berbeda dan terpisah. Penjelasan resmi Rektor UMY Dr Khoiruddin Bashori, Minggu (1/6) disampaikan kepada wartawan usai pemancangan tiang pertama sportorium di Kampus Terpadu UMY. Menjawab pertanyaan wartawan, Khoiruddin menegaskan bahwa Drs Purwanto staf ahli rektor bidang pengembangan teknologi tidak ada kaitannya dengan Joko Suprapto. ”Bisa dikros cek ke Pak Purwanto ataupun Pak Joko,” katanya. Penjelasan tersebut dikemukakan menyusul ramainya persoalan tersebut, menyusul tidak hadirnya Joko Suprapto memenuhi undangan Presiden SBY dalam peringatan Seabad Kebangkitan Nasional dan justru diketemukan dalam kondisi sakit. Serta penjelasan dari UGM yang menyatakan sebelumnya Joko Suprapto dan tim pernah datang untuk menyampaikan ‘ide’nya tersebut. ”Kita kenal dengan beliau yang mengembangkan blue energy dan sudah ‘dipamerkan’ pada Presiden SBY. Sedang kami muncul belakangan,” jelas Khoiruddin saat ditanya sejauhmana komunikasi dan keterkaitannya banyugeni dengan Joko Suprapto. Mungkin, katanya maksud baik beliau memberikan kepada bangsa dan negara ini tidaklah semulus jalannya yang dibayangkan, malah dikira penipu. Maka belajar dari blue energy itulah jelasnya, pihaknya tidak cepat-cepat berkuasa ria. ‘Kan dalam bekerja itu ada gerakan politik, struktural dan kultural. Nah kita, tambahnya, tidak usah mengambil lewat struktural, tapi kultural saja. ”Kita melakukan yang kecil-kecil dulu, mudah-mudahan berguna untuk rakyat. Yang penting kalau ada apa-apa nanti rakyat yang membela,” jelasnya. Sudah Diujicobakan Sebagaimana diketahui, 13 Februari 2008 UMY me-launching bahan bakar air yang diberi nama banyugeni. Hasil penelitian UMY dengan tim peneliti Drs Purwanto, Ir Bledug Kusuma Prasadja MT, Ir Tony K Haryadi MT, Ir Lilik Utari MS dan Dra Nike Triwahyuningsih MP saat di-launching dengan menghadirkan Bupati Bantul Idham Samawi sudah diujicobakan untuk lampu minyak, kompor minyak bahkan juga traktor serta sepeda motor. Waktu itu disebutkan bahwa produk hidrofuel ini memiliki varian berupa hidro-kerosene (setara minyak *Bersambung hal 23 kol 4 tanah), hidro-diesel (setara solar), hodro-premium (setara bensin) dan hidro-avtur (setara bahan bakar jet). Waktu itu Rektor UMY menyebut bahwa dengan memahami makna yang terkandung di dalam Alquran, hal itu bukanlah sebuah kemustahilan. Waktu itu dikutip beberapa ayat di antaranya surat At-Thur (6) yang mengatakan perhatikan laut yang berapi, surat Al-Anbiya’ (30) …..Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu hidup serta At-Takwir (6) Dan apabila laut dipanaskan. Meski sudah diujicobakan namun proses kajian ilmiah itu tetap tidak dipaparkan untuk umum. Kemarin Rektor UMY kembali menegaskan, semua itu menjadi pilihan strategis dan masih tetap tidak akan membuka. ”Jangan lantas kami dianggap ‘tertipu’ karena tidak membuka proses ini. Kalau tidak membuka, artinya orang tidak tahu, bukan penipuan-lah,” katanya menjawab pertanyaan wartawan. Dan menurutnya adalah biasa wacana akademik selalu begitu. Bahkan, katanya, penemuan baru yang besar, pasti akan dikira gila. ”Dulu, orang tidak percaya handphone, bisa ke bulan. Bahkan KR kemarin Sabtu mengutip kalimat yang menyatakan tidak mungkin air jadi bensin, hari ini (Minggu) mengutip hal yang mungkin kok. Ini hal biasa,” jelasnya. Kalau kami tidak membuka proses untuk umum, jelasnya, ini adalah pilihan strategis. Dan saya lanjutnya, melihat ini sebagai industri strategis yang harus dilindungi. Sehingga kalau dibuka tidak strategis lagi. Ke Gerbang Mengawali penjelasannya, Khoiruddin mengemukakan bahwa tugasnya mengantar para peneliti saya sudah selesai. ”Saya sudah mengantar ke gerbang,” katanya. Dengan demikian, hal ini harus ditindaklanjuti secara serius. Dan untuk itu, katanya, masalah banyugeni akan ditindaklanjuti unit usaha mandiri yang terpisah dari UMY. Pemisahan itu dimaksudkan agar peneliti yang suntuk di situ, ya hanya fokus ke situ saja dengan sangat serius. Dengan demikian, tahap demi tahap dapat dilalui dengan baik. ”Kalau masih di saya, saya juga tidak bisa mikir yang lain. Sebagai rektor tugas saya hanya mengantar ke gerbang,” tambahnya. Saat ditanya apakah dengan demikian akan segera diproduksi besar-besaran, Khoiruddin menyebut bila penelitian akan dilanjutkan unit usaha dengan tahapan yang tidak semudah dibayangkan orang, tidak sekarang kecil lalu dengan perkalian jadi besar. ”Pabrikasi ‘kan harus dengan tahapan, Prototipe dulu, skala kecil, skala besar. Pusri dengan amoniak begitu juga. Tahun 60-an sekitar 10-an liter, tahapannya panjang untuk menjadi seperti sekarang. Maka jadi tidak realistis kalau universitas terlalu terlibat, karena bisa jadi tidak optiomal semua,” jelasnya. Dengan dilepas dan menjadi unit usaha mandiri menurutnya tidak perlu lagi membawa nama UMY. Namun bagaimana usaha mandiri itu nanti bentuknya seperti apa, siapa yang ada disitu, modelnya seperti apa menurut Rektor UMY, yang masih dicari. Untuk personelnya, selain para peneliti tentu juga yang lain harus masuk karena harus dikelola profesional. (Fsy)-a
sumber : KR (Kedaulatan Rakyat)
June 2nd, 2008 - Posted in Teknologi Populer | | 29 Comments
SIAP DIPRODUKSI MASSAL ; ‘Banyugeni’ Penuhi Standar Dirjen Migas
27/05/2008 11:09:46 SLEMAN (KR) - Harga minyak yang terus naik, menimbulkan kesadaran para peneliti di UMY untuk melakukan eksplorasi terhadap sumber-sumber bahan bakar baru. Dari hasil penelitian, Puspar UMY telah dihasilkan produk Hidrofuel yang merupakan bahan bakar berbahan baku air yang diberi nama ‘Banyugeni’. ‘Banyugeni’ ini, Senin (26/5) disosialisasikan di Aula Bappeda Sleman oleh Tim Pusat Studi Pengelolaan Energi Regional (Pusper) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Energi alternatif berbahan dasar air dipaparkan oleh Tim Peneliti dari UMY dipimpin ketuanya Ir Bledug Kusumo Prasodjo MT didampingi Drs Purwanto, Ir Lilik Utari MS, Dra Nike Triwahyuningsih MP di hadapan 50 undangan dari instansi Pemkab Sleman. Menurut Drs Purwanto, ‘Banyugeni’ merupakan salah satu energi yang berbahan dasar air yang diolah dengan suatu proses reaksi kimia tertentu sehingga dihasilkan bahan bakar cair yang bisa disetarakan dengan bahan bakar yang telah ada. Sampai saat ini dari penelitian yang dilakukan oleh Tim Pusper UMY telah mampu menghasilkan 4 varian bahan bakar yaitu Hidro Kerosin (setara dengan minyak tanah), Hidro-Diesel (setara solar), Hidro-Premium (setara bensin) dan Hidro-Avtur (setara bahan bakar jet). “Semua varian telah dilakukan ujicoba di PT Core Lab Indonesia yang merupakan suatu Laboratorium Independen dan hasilnya menyatakan secara meyakinkan menunjukkan bahwa keempat varian ‘Banyugeni’ telah memenuhi standar Dirjen Migas. Hasil ujicoba menunjukkan bahwa bahan bakar yang setara minyak tanah sudah dapat langsung dipakai untuk menyalakan kompor, lampu minyak, lampu petromak tanpa harus memodifikasi alatnya (kompor, lampu tempel,” ujarnya. Sedangkan untuk yang setara solar dan premium, menurut Purwanto sudah dapat digunakan langsung pada mobil, motor atau mesin yang berbahan bakar bensin dan solar. Sementara untuk yang Hidro-Avtur telah diujicobakan pada mesin berbahan bakar jet (jet fuel) misalnya untuk pesawat aeromodeling. Purwanto mengakui, saat ini hasil penelitian tersebut masih dalam tataran laboratorium, akan tetapi ke depan diharapkan bisa diproduksi secara massal. Sehingga dapat membantu memecahkan persoalan kekurangan bahan bakar minyak di tanah air atau bahkan dunia. Menanggapi penemuan ini, Ketua Bappeda Sleman Drs P Suyanto menyambut dengan baik. Terlebih saat ini BBM menjadi semakin langka dan mahal. (Has)-z
sumber : KR (Kedaulatan Rakyat)
May 30th, 2008 - Posted in Teknologi Populer | | 6 Comments
’BLUE ENERGY’ DIANGGAP TAK ILMIAH ; Joko Pernah Tawarkan ke UGM
29/05/2008 08:46:31 YOGYA (KR) - Sebelum bertemu Presiden SBY membicarakan blue energy di Cikeas tahun lalu, Joko Suprapto pernah menawarkan hasil temuan pembangkit listrik ke UGM. Namun karena tidak bisa diuji secara ilmiah, pihak UGM tidak menindaklanjuti. Hal ini diungkapkan Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM Sudiartono kepada wartawan di UGM, Rabu (28/5). ”Pada akhir Desember 2005 Joko Suprapto bersama 8 temannya ke UGM menggunakan mobil rental. Mereka diterima Rektor UGM Prof Sofian Effendi, didampingi Dr Chairil Anwar,” papar Sudiartono. Di depan Rektor UGM di rumah dinas, Joko memperlihatkan hasil temuannya tentang pembangkit listrik menggunakan tenaga yang tidak diketahui secara jelas. Ia mempresentasikan pembangkit listrik menggunakan empat buah batu baterai kecil, beberapa bola lampu 60 watt serta panel surya. Pembangkit listrik yang dipresentasikan tersebut memiliki kapasitas 25 kilowatt, sehingga membuat Prof Sofian sempat tertarik untuk membeli guna keperluan listrik di perumahan UGM. Saat itu sempat ditanyakan apakah di dalamnya ada accu atau inverter, ternyata tidak ada. Saat ditanya lagi berapa lama lampu akan menyala, dikatakan menyala selamanya. Dari sini Sudiartono mulai tidak percaya, karena menyalahi hukum kekekalan tenaga. Menurutnya, dari diskusi sederhana ini dirinya sempat curiga apa motif dari permintaan Joko untuk bertemu langsung dengan Rektor UGM.
Akhirnya diketahui, Joko hanya meminta selembar surat pengakuan dari UGM atas hasil ciptaannya dan minta membiayai riset untuk menyelesaikan pembangkit listrik tenaga aneh sebesar Rp 3 miliar. Untungnya, Rektor meminta dirinya dan peneliti di PSE untuk mendiskusikan secara ilmiah. Pada pertemuan di kantor PSE, Joko tidak hadir, tapi mengirim utusannya, Purwanto, untuk mendiskusikan lebih lanjut. Purwanto yang datang menggunakan taksi ini ditugaskan Joko untuk melayani diskusi dengan Sudiartono dan Kusnanto, peneliti dari Teknik Fisika UGM. Sebelum diskusi sempat ditanyakan latar belakang pendidikan Purwanto. Ia mengaku lulusan Teknik Fisika IKIP Yogyakarta (UNY), sambil memperlihatkan kartu nama, tertulis namanya tidak menggunakan titel Drs. Saat diskusi Purwanto sempat kewalahan dan kesulitan menjawab berbagai pertanyaan Sudiartono dan Kusnanto. Apalagi ketika ditanya tentang hukum kekekalan tenaga, ia menjawab dengan sedikit ngawur yang tidak ada hubungan dengan pembangkit listrik tersebut. Anehnya lagi, tandas Sudiartono, Purwanto mengaku mampu menciptakan pembangkit listrik tenaga matahari dengan kapasitas Gigawatt dengan cara melobangi lapisan ozon. ”Dari sini kami mulai tidak menanggapi lagi, karena sudah kelihatan penipuannya. Saat melontarkan bahan bakar air dan kami tidak menanggapinya,” ujarnya. Karena kesulitan menjawab pertanyaan seputar pembangkit listrik, Sudiartono sempat menebak kotak ajaib yang didemokan di depan Rektor UGM sebelumnya sebagai pembangkit tenaga listrik yang mendapat bantuan jin. Purwanto mengelak, tidak menggunakan jin. Selanjutnya, Purwanto mangatakan akan ada workshop kotak ajaib yang dipresentasikan di Surakarta dan lokasinya sesuai dengan alamat di kartu namanya. ”Setelah dicek ke alamat tersebut di Surakarta, ternyata alamat yang tertera di kartu namanya alamat Direktur PDAM Surakarta, bahkan orang sekitar tidak mengenal nama Purwanto,” katanya. Ketika dikonfirmasi via telepon, Purwanto mengatakan dirinya sedang berada di Magelang. Dalam percakapan lewat telepon Sudiartono langsung menuduh Purwanto penipu. ”Saya katakan, anda penipu, alamat workshop yang ditunjukkan rumah direktur PDAM Surakarta. Saya katakan putus komunikasi, karena anda penipu,” kata Sudiartono. (Asp)-z
sumber : KR (Kedaulatan Rakyat)
May 30th, 2008 - Posted in Teknologi Populer | | 17 Comments
GRATIS BAGI YANG INGIN BELAJAR; Bahan Bakar Air, Kian Diminati
28/05/2008 08:13:34 BAHAN bakar air untuk menghemat Bahan Bakar Minyak (BBM) pada kendaraan bermotor temuan Djoko Sutrisno (51), makin diminati. Bahkan, masyarakat yang ingin belajar tak hanya dari Yogyakarta dan sekitarnya tetapi seluruh Indonesia. Setiap harinya tak terhitung berapa banyak yang tertarik ingin mencoba teknologi sederhana ini. Keprihatinannya akan nasib rakyat kecil yang terkena dampak kenaikan BBM, membuat warga Jl HOS Cokroaminoto 76 Yogyakarta ini tidak segan-segan untuk berbagi ilmu. Bahkan, ia tidak mematok tarif khusus bagi yang ingin menerapkan bahan bakar air temuannya itu. ”Saya ingin membantu masyarakat yang saat ini dibuat pusing oleh kenaikan BBM. Dengan teknologi ini mereka bisa menghemat BBM,” ucapnya kepada KR, Selasa (27/5) di sela kesibukannya melayani masyarakat yang ingin tahu bagaimana cara memasang alat tersebut. Bahan bakar air ini bisa dipasang di mobil maupun sepeda motor tanpa harus mengganti komponennya. Alatnya sangat sederhana, hanya berupa tabung plastik, stainless steel yang berfungsi sebagai elektrolizer serta zat kimia Kalium Hidroksida sebagai katalisator. Di dalam elektrolizer ini air akan diubah menjadi Hidrogen. Unsur Hidrogen ini yang nantinya akan diambil sebagai sumber tenaga untuk menjalankan mesin. ”Untuk penghemat BBM pemasangannya cukup mudah seperti memasang klakson atau lampu tambahan. Tapi kalau untuk mengganti BBM membutuhkan modifikasi yang cukup banyak,” ucap bapak 3 anak ini. Jika digunakan untuk mobil diletakkan di dalam mesin di ruang kosong kemudian diikat, sementara untuk sepeda motor di luar mesin. Dibanding dengan bensin, alat ini bisa menghemat hingga 100 persen untuk motor sedangkan untuk mobil bisa irit 30-70 persen. Dicontohkannya, dalam perjalanan ke Jakarta sebuah kendaraan umum dari Terminal Giwangan ke Cililitan semula membutuhkan 200 liter solar setelah dipasang alat ini hanya memerlukan 120 liter. Begitu pula saat dirinya pergi ke Jawa Timur, biasanya sampai di Pasuruan harus isi BBM namun dengan alat ini sampai di Banyuwangi belum isi BBM. Djoko mulai menemukan teknologi ini pada tahun 2005 tanpa sengaja saat hendak mengecek air accu pada mobilnya. Iseng, ia menyulut air di dalam accu dengan korek api ternyata menimbulkan letupan. Dari sini ia mulai berpikir bahwa air mengandung unsur Hidrogen. Dengan bekal pengalamannya bekerja di bengkel mobil kakaknya ia mulai mengutak-atik mobilnya. ”Tujuannya waktu itu ingin membuktikan bahwa ternyata mesin bisa menyala tanpa BBM,” ungkap lulusan SMP Pangudi Luhur ini. Dari hasil eksperimennya itu kini banyak yang melirik apalagi saat harga BBM melambung tinggi. Banyak ‘murid-muridnya’ yang sudah mempraktikkan temuannya itu. Ia terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar tanpa ditarik biaya alias gratis. Hanya mengganti bahan baku alat ini yang cukup murah untuk motor Rp 50.000 sedang mobil Rp 100.000. ”Monggo ilmu ini disebarkan biar semua orang tahu. Selain motor dan mobil kemarin dari pihak PT KAI juga tertarik ingin memasang alat ini untuk menghemat BBM kereta api,” imbuh Djoko yang mulai memasang alat ini sejak tahun 2000. Untuk perawatannya, menurut Djoko, tidak sulit seperti merawat mesin kendaraan pada umumnya. Bahkan, setelah digunakan dalam waktu cukup lama kualitas mesinnya masih bagus dan lebih bersih.(Anik Puspitosari)-z
sumber : KR (Kedaulatan Rakyat)
May 30th, 2008 - Posted in Teknologi Populer | | 9 Comments
Api dari Air
YOGYAKARTA — Biasanya air digunakan untuk memadamkan api. Tapi peneliti dari Pusat Studi Pengembangan Energi Regional (Pusper) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) justru membuat api dari air. Temuan yang diberi nama hydrofuel atau bahan bakar berbahan dasar air ini akan dipatenkan dengan merek BanyugeniTM.
Peluncuran produk yang akan segera diperkenalkan kepada masyarakat tersebut dilakukan oleh Rektor UMY Khoiruddin Bashori bersama Bupati Bantul Idham Samawi di Yogyakarta kemarin. Uji coba bahan bakar baru itu dilakukan dengan menyalakan lampu minyak, kompor, traktor, sepeda motor, dan pesawat aeromodeling.
Lampu minyak dan kompor yang diisi BanyugeniTM bisa menyala dengan baik. Minyak berbahan dasar air yang disiramkan ke lantai juga langsung terbakar begitu terkena api. Traktor dan sepeda motor yang diisi dengan hydrofuel, mesinnya juga menyala sempurna. “Ini luar biasa,” kata Idham Samawi.
Khoiruddin mengungkapkan hydrofuel tersebut ditemukan melalui serangkaian penelitian selama setahun terakhir. Produk tersebut sudah diuji di PT CoreLab Indonesia, sebuah laboratorium internasional yang independen. Hasilnya secara meyakinkan menunjukkan bahwa biofuel tersebut telah memenuhi standar bahan bakar BP Migas.
BanyugeniTM mempunyai varian produk berupa hidro-kerosin (setara dengan minyak tanah), hidro-diesel (setara solar), hidro-premium (setara bensin), dan hidro-avtur (setara bahan bakar jet). “Masih akan dikembangkan pula varian produk lain yang mempunyai keunggulan lebih yang ada saat ini,” kata Khoiruddin.
Secara ilmiah penggunaan air untuk bahan bakar sebenarnya sangat masuk akal. Menurut Purwanto, salah satu peneliti yang terlibat dalam pengembangan hydrofuel itu, air terdiri atas hidrogen dan oksigen, kedua unsur yang mudah terbakar. “Jadi, pada hakikatnya, air adalah api,” kata dia. Selain Purwanto, ada empat peneliti lain yang terlibat dalam tim pembuat BanyugeniTM, yaitu Bledug Kusuma Prasadja, Tony K. Haryadi, Lilik Utari, dan Nike Triwahyuningsih.
Air yang digunakan untuk membuat minyak itu adalah air tawar biasa, yang diolah lewat teknologi mekanotermal-elektrokimia. Prosesnya melalui empat tahap, yakni mekanis, termal (pemanasan), elektris, dan kimiawi. Namun, Purwanto masih merahasiakan campuran yang digunakan dalam proses kimiawi karena teknologi itu belum dipatenkan.
Meski berbahan dasar air, hidro-premium tidak korosif atau menimbulkan karat. Bahan bakar ini juga tidak meninggalkan residu, cuma 0,5 persen dari maksimum 2,0 persen volume yang diizinkan.
Kandungan bahan pencemar emisinya sangat rendah. Kandungan sulfur dari gas buang hanya 0,03 persen wt dari maksimum 0,05 persen wt yang diizinkan, serta kandungan timbal (Pb) hampir nol, dari batas tertinggi 0,013.
Pengujian terhadap pesawat aeromodeling menunjukkan bahan bakar ini bisa memasok tenaga cukup besar, di atas 16 ribu rpm. Hidro-avtur yang digunakan juga tidak korosif dan beremisi rendah, total sulfur hanya 10 persen dan tidak mudah membeku (titik beku minus 45 derajat Celsius). “Pada pengujian terhadap pesawat aeromodeling, bahan bakar ini dapat digolongkan sebagai bahan bakar jet dan akan tetap bersifat dingin (cool-fuel), memiliki IBP (titik didih awal) 164 derajat Celsius.”
Hidro-diesel juga tidak korosif. Titik didih awalnya 201 derajat Celsius, emisinya rendah dan tidak meninggalkan residu berlebihan, dengan indeks cetane 51,3. “Hasil pengujian terhadap hidro-kerosin juga memperlihatkan bahwa bahan bakar ini tidak beracun dan tidak beremisi pada pengujian dengan lampu minyak. Hidro-kerosin tidak menimbulkan asap jelaga yang berlebihan,” katanya.
Khoiruddin Basyori mengatakan sejauh ini UMY belum secara resmi melakukan komunikasi dengan pemerintah soal temuan tersebut. Namun, diakuinya, sudah ada sejumlah pihak yang menawarkan kerja sama memproduksi BanyugeniTM secara massal. “Namun, menurut kami, minyak adalah hal yang sangat sensitif sehingga kami sangat berhati-hati,” dia menambahkan. MUH SYAIFULLAH
February 17th, 2008 - Posted in Teknologi Populer | | 47 Comments
Kaji Alquran, Hasilkan ’Banyugeni’
BAHAN bakar air? Kedengarannya aneh. Maka wajar jika menimbulkan pertanyaan. Namun jika umat Islam memahami makna-makna yang terkandung di dalam Alquran, sebenarnya hal itu bukanlah sebuah kemustahilan.
Seperti disebut Rektor UMY Dr Khoiruddin Bashori, berasal dari mencerna apa yang termaktub di dalam surat At-Thur (6) yang mengatakan perhatikan laut yang berapi, surat Al-Anbiya’ (30)….. Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu hidup serta At-Takwir (6) ”Dan apabila laut dipanaskan” inilah kehadiran bahan bakar air dimulai. ”Tentu dengan melakukan penelitian dan pengembangan yang cukup panjang. Saat ini telah diketemukan teknologi yang mampu memproduksi bahan bakar dengan bahan baku air (hidrofuel). Produk ini hasil penelitian UMY,” jelas Khoiruddin, Selasa (12/2).
Tentu bukan tanpa alasan bagi UMY dengan kajian dan melakukan penelitian tersebut. Tak semata-mata beratnya beban pemerintah yang terus mengalami defisit anggaran dan tingginya subsidi pemerintah untuk BBM yang terus menanjak. Apalagi untuk tahun 2007 lalu, tambah Khoiruddin, sudah mencapai Rp 50,64 triliun. Ketika bahan bakar dari minyak bumi dan batubara bukan hanya makin sulit diperoleh namun menyisakan emisi gas yang berbahaya bagi kesehatan, pelbagai alternatif harus dilakukan. ”Fakta ini menimbulkan kesadaran peneliti UMY untuk melakukan eksplorasi terhadap sumber bahan bakar baru,” kata Khoiruddin didampingi Ketua BHK UMY, Achmad Ma’ruf SE MSi.
Rabu (13/2) hari ini, kehadiran banyugeni akan dikenalkan lewat soft-launching yang akan dihadiri Bupati Bantul Idham Samawi. Perjalanan panjang yang dilakukan tim peneliti Drs Purwanto, Ir Bledug Kusuma Prasadja MT, Ir Tony K Haryadi MT, Ir Lilik Utari MS dan Dra Nike Triwahyuningsih MP ini kini menghadirkan hidrofuel. Dan ini sebenarnya, bisa menjadi jawab atas ‘tantangan’ Presiden SBY akan kehadiran bahan bakar air, beberapa waktu lalu. ”Produk hidrofuel hasil penelitian UMY ini telah dipatenkan dengan nama banyugeni,” kata Ma’ruf.
Produk hidrofuel ini memiliki varian berupa hidro-kerosene (setara minyak tanah), hidro-diesel (setara solar), hidro-premium (setara bensin) dan hidro-avtur (setara bahan bakar jet). Ke depan, sebut Ma’ruf, akan dikembangkan produk lain yang memiliki keunggulan lebih dari varian yang ada saat ini. ”Produk ini sudah diuji PT CoreLab Indonesia, sebuah laboratorium internasional yang independen. Hasilnya, ke-4 varian banyugeni telah memenuhi standar Ditjen Migas,” tambah Ma’ruf.
Hasil ujicoba menunjukkan jika hidro-kerosene dapat langsung digunakan untuk menyalakan kompor minyak tanah, lampu minyak atau petromak. Hidro-diesel dapat langsung digunakan pada mesin diesel atau mobil dengan bahan bakar solar. Sementara, hidro-premium dapat langsung digunakan pada mobil, motor dan mesin berbahan bakar bensin serta pesawat aeromodeling. Sementara, hidro-avtur telah diujicobakan pula pada mesin berbahan bakar jet (jet-fuel), misal untuk pesawat aeromodeling.
Penelitian ini memang akan terus dikembangkan. Tidak hanya pada level laboratorium namun menurut Kepala BHK UMY juga level industri. ”Sehingga akan dapat memenuhi kebutuhan energi sektor transportasi, sektor industri dan sektor rumahtangga dengan harga murah,” kata Ma’ruf. Apalagi bahan bakar ini juga bisa dikatakan tidak merusak.
Seperti pengujian terhadap hidro-kerosene memperlihatkan bahwa bahan bakar rakyat tersebut selain tidak korosif, tidak beracun dan tidak beremisi bahkan tidak meninggalkan asap jelaga yang berlebihan. Seperti dalam pengujian untuk hidro-premium hasilnya menunjukkan sangat tidak korosif atau tidak menyebabkan karat, skala copper strip corrosion 1a. Juga tidak meninggalkan residu karena hanya 0,5%vol dari maksimal 2,0%vol yang diizinkan. ”Selain itu kandungan bahan pencemar dari emisi bahan bakar ini sangat rendah. Antara lain kandungan sulfur hanya 0,03%wt dari maksimal 0,05%wt yang diizinkan. Sedang kandungan timbale (Pb) hampir nol dari maksimal 0,013 yang diizinkan,” jelas Ma’ruf.
Ma’ruf dan juga Khoiruddin mengakui, implikasi produk ini sangat luas. Pengurangan beban biaya produksi semua sektor dan secara langsung bisa menghemat anggaran untuk subsidi BBM. ”Yang paling penting, ini bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia, bukan untuk kepentingan kelompok apalagi golongan,” jelas Khoiruddin Bashori.
February 17th, 2008 - Posted in Teknologi Populer | | 58 Comments
Bahan Bakar Air Bukan Lagi Impian
Subsidi pemerintah untuk BBM tahun 2007 sudah mencapai 50,64 triliun rupiah. Sungguh beban yang amat berat bagi pemerintah yang sekarang ini terus mengalami defisit anggaran. Sementara, harga bahan bakar minyak (BBM) semakin melambung padahal konsumsinya terus meningkat. Tak hanya itu, penggunaan BBM juga menyebabkan emisi gas yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Menyikapi hal itu, eksplorasi energi alternatif pengganti BBM terus dilakukan. Belum lama ini, para peneliti di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil menemukan energi baru dari air, yang telah dipatenkan dengan nama Banyugeni.
Sesuai namanya, Banyugeni, energi ini berasal dari air (hidrofuel). Inspirasi penelitian hidrofuel ini berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an, sebagaimana dikemukakan oleh Rektor UMY, Dr Khoiruddin Bashori, “At-Thur ayat 6 yang berbunyi perhatikan laut yang berapi, Al-Anbiya’ ayat 30 dan Kami jadikan dari air segala sesuatu hidup, dan At-Takwir ayat 6, dan apabila laut dipanaskan.”
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, para peneliti UMY berupaya mengakomodasikan sinyal-sinyal teknologi yang termaktub dalam al-Qur’an, dengan melakukan penelitian dan pengembangan.
Banyugeni mempunyai varian produk berupa hidro-kerosene (setara minyak tanah), hidro-diesel (setara solar), hidro-premium (setara bensin), dan hidro-avtur (setara bahan bakar jet). Produk-produk itu akan terus dikembangkan untuk mendapatkan kualitas terbaiknya.
Untuk menghasilkan hidrofuel, digunakan teknologi “mekanotermal-elektrokemis” yang mencakup empat macam proses yaitu mekanik (gerak), thermal (panas), listrik dan kimiawi. Perpaduan ke empat proses itu, dengan bahan baku air yang sangat natural, akan menghasilkan beberapa produk bahan bakar minyak yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi bagi lingkungan. Kandungan unsur dan sifat bahan bakar minyak yang sudah diolah pada Banyugeni memungkinkannya langsung digunakan pada mesin tanpa terlebih dahulu mengubah atau memodifikasi komponen.
Hasil ujicoba menunjukkan hidro-kerosene dapat langsung digunakan untuk menyalakan kompor minyak tanah, lampu minyak atau petromak. Hidro-diesel dapat langsung digunakan pada mesin diesel atau mobil dengan bahan bakar solar, dan hidro-premium dapat langsung digunakan pada mobil, motor atau mesin berbahan bakar bensin dan pesawat aeromodeling. Sementara hidro-avtur telah diujicobakan pada mesin berbahan bakar jet misalnya untuk pesawat aeromodeling.
Produk-produk itu aman digunakan. Tidak korosif, beremisi sangat rendah, dan tidak menyisakan banyak residu.
Hidro-premium tidak bersifat korosif sehingga tidak menyebabkan karat (skala copper strip corrosion 1a). Ia juga tidak meninggalkan residu (hanya 0,5 %vol dari maksimal 2,0 %vol yang diijinkan). Selain itu kandungan bahan pencemar dari emisi bahan bakar ini sangat rendah, antara lain kandungan sulfur hanya 0,03 %wt (dari maksimal 0,05 %wt yang diijinkan) serta kandungan timbal (Pb) hampir nol (dari maksimal 0,013 yang diijinkan). Pada pengujian terhadap pesawat aeromodeling, bahan bakar ini ternyata cukup bagus, memberikan rpm > 16.000.
Hidro-avtur juga tidak korosif, dan beremisi rendah (total sulfur hanya 10% dari maksimal yang dipersyaratkan) dan tidak mudah membeku (freezing point -45oC). Dari pengujian terhadap pesawat aeromodeling, bahan bakar ini dapat digolongkan sebagai bahan bakar jet. Untuk penggunaan sebagai jet-fuel, hidro-avtur ini sangat istimewa karena akan tetap bersifat dingin, memiliki IBP (initial boiling point) 164 derajat Celcius. Demikian juga Hidro-diesel, tidak bersifat korosif (copper strip 1a), IBP 201 derajat Celcius, beremisi rendah, dan tidak meninggalkan residu berlebihan, dengan index Cetane 51,3.
Hasil pengujian terhadap hidro-kerosene memperlihatkan bahwa bahan bakar rakyat tersebut tidak korosif (copper strip corrosion 1a), IBP 161oC, tidak beracun dan tidak beremisi (total sulfur 0,03 %wt dari max 0,2 %wt yang diijinkan) dan tidak meninggalkan residu (hanya 0,5 %vol). Pada pengujian dengan lampu minyak, hidro-kerosene tidak menimbulkan asap jelaga yang berlebihan.
Produk-produk itu telah diuji di PT CoreLab Indonesia, sebuah laboratorium internasional yang independen. Hasilnya secara meyakinkan menunjukkan bahwa keempat varian Banyugeni itu telah memenuhi standar Dirjen Migas.
Penelitian ini terus akan dikembangkan, tidak saja pada level laboratorium, namun juga level industri sehingga dapat memenuhi kebutuhan energi pada sektor transportasi, sektor industri, dan sektor rumah tangga dengan harga yang murah. Implikasi pengembangan produk ini sangat luas, seperti pengurangan beban biaya produksi semua sektor, dan secara langsung akan menghemat anggaran negara untuk subsidi BBM. ( Yuni Ambarwati )
February 17th, 2008 - Posted in Teknologi Populer | | 2 Comments
UMY dan produk “banyugeniTM”
Peneliti di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta boleh berbangga diri karena telah menemukan teknologi yang mampu memproduksi bahan bakar yang berbahan baku air (hidrofuel). Apalagi sekarang sedang hebohnya rencana pemerintah untuk menerapkan pembatasan Bahan Bakar Minyak untuk mobil pribadi, dan mengharuskan masyarakat memiliki smart card untuk agar dapet membeli BBM bersubsidi.
Bahan bakar air ? sepertinya tak mungkin ya? Sangat aneh kedengarannya. Di dalam Ayat-ayat Al-Qur’an surat ; At-Thur (6) “Perhatikan laut yang berapi”, Al-Anbiya’ (30) “….. dan Kami jadikan dari air segala sesuatu hidup” dan At-Takwir (6) “Dan apabila laut dipanaskan” sudah tercatat. Dan…dari sinilah kehadiran bahan bakar air ini bermula.
Ada empat varian produk berupa hidro-kerosene (setara minyak tanah), hidro-diesel (setara solar), hidro-premium (setara bensin), dan hidro-avtur (setara bahan bakar jet). Dan…. produk ini sudah diujicoba oleh PT. CoreLab Indonesia, sebuah Laboratorium Internasional yang independen. Hasilnya telah memenuhi standar Ditjen Migas.
Tentu bukan semata-mata karena prihatin dengan beratnya beban pemerintah yang terus mengalami defisit anggaran dan tingginya subsidi pemerintah saja. Lebih dari itu…Bahan bakar dari minyak bumi dan batubara saat ini semakin sulit diperoleh. Lagipula dampak kerusaan alam sudah dapat kita rasakan, ketika eksploitasi berlebihan tanpa adanya upaya menjaga kelestariannya. Bahan bakar dari minyak bumi terbukti menyisakan emisi gas yang berbahaya bagi kesehatan. Berbeda dengan Hidrofuel “banyugeniTM” yang ramah lingkungan ini.
Ya..saatnya kita memanfaatkan sumber kehidupan yang melimpah ; AIR, sebagai bahan bakar. Dengan begitu kita membantu meminimalisir kerusakan alam, atau mulai pelan pelan menambal lapisan ozon kita yang sudah berlubang.
February 17th, 2008 - Posted in Teknologi Populer | | 74 Comments
